Sunday, November 11, 2012

Hikayat Iblis


    Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal r.a. dari Ibnu Abbas r.a. yang berkisah :

    Kami bersama Rasulullah SAW di rumah salah satu sahabat Anshar, dimana saat itu kami di tengah-tengah jama’ah. Lalu ada suara orang memanggil dari luar, “Wahai penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, sementara kalian butuh padaku”.
   
    Lalu Rasulullah SAW menjelaskan, “Ini adalah Iblis yang terkutuk – semoga Allah senantiasa melaknatinya”. Kemudian Umar ra meminta izin kepada Rasulullah SAW sembari berkata, “Ya Rasulullah SAW, apakah engkau mengizinkanku untuk membunuhnya?”. Beliau Nabi SAW menjawab, “Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa ia termasuk mahluk yang tertunda kematiannya sampai batas waktu yang telah ditentukan (hari kiamat)? Akan tetapi sekarang silahkan kalian membukakan pintu untuknya. Sebab ia diperintahkan untuk datang kesini, maka pahamilah apa yang diucapkan dan dengarkan apa yang bakal ia ceritakan kepada kalian!”.

    Ibnu Abbas berkata: “Kemudian dibukakan pintu, lalu ia masuk di tengah-tengah kami. Ternyata ia berupa orang yang sudah tua Bangka dan buta sebelah mata. Ia berjenggot sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda. Kedua kelopak matanya terbelah ke atas tidak kesamping. Sedangkan kepalanya seperti gajah sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti babi. Sementara kedua bibirnya seperti bibir kerbau.”

    Ia datang sambil memberi salam, “Assalamu’alaika ya Muhammad, assalamu’alaikum ya jama’atal muslimin”. Kata Iblis.

Nabi SAW menjawab, “Assalamullah ya muin (keselamatan hanya milik Allah wahai makhluk yang terkutuk). Saya mendengar engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluan tersebut wahai Iblis?”

“Wahai Muhammad, saya datang ke sini bukan karena kemauanku sendiri, tapi saya datang ke sini karena terpaksa”, tutur Iblis.

“Apa yang membuatmu terpaksa harus datang ke sini wahai makhluk yang terkutuk?”, Tanya Rasulullah SAW.

Iblis menjawab, “Telah datang kepadaku seorang malaikat yang diutus oleh Tuhan yang maha agung, dimana utusan itu berkata kepadaku, ‘Sesungguhnya Allah SWT memerintahmu untuk datang kepada Muhammad SAW sementara engkau adalah makhluk yang rendah dan hina. Engkau harus memberi tahu kepadanya, bagaimana engkau menggoda dan merekayasa anak cucu Adam as, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Lalu engkau harus menjawab segala apa yang ditanyakan Muhammad SAW dengan juur. Maka demi kebesaran dan keagungan Allah SWT, jika engkau menjawab dengan bohong, sekalipun hanya sekali, sungguh engkau akan Allah SWT jadikan debu yang bakal dihempaskan oleh angin kencang, dan musuh-musuhmu merasa senang’. Wahai Muhammad, maka sekarang saya datang kepadamu sebagaimana yang diperintahkan kepadaku. Maka tanyakan apa saja yang engkau inginkan. Kalau sampai saya tidak menjawab dengan jujur, maka musuh-musuhku akan merasa senang atas musibah yang bakal saya terima. Sementara jika tidak ada beban yang lebih berat bagiku daripada bersenangnya musuh-musuhku atas musibah yang menimpa diriku”.

Rasulullah SAW melemparkan pertanyaan kepada Iblis, “Jika engkau bisa menjawab dengan jujur, maka coba ceritakan kepadaku, siapa yang paling engkau benci?”.

Iblis menjawab dengan jujur, “Engkau, wahai Muhammad adalah orang yang paling aku benci dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu”.

“Lalu siapa lagi yang paling engkau benci?”, Tanya Rasulullah SAW.

“Seorang pemuda yang bertaqwa dimana ia mencurahkan dirinya hanya kepada Allah”. Jawab Iblis.

“Siapa lagi?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Orang alim yang wara’ (menjaga diri dari syubhat) lagi sabar”, jawab Iblis.
“Siapa lagi?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Orang yang senantiasa melanggengkan kesucian dari tiga kotoran (hadats besar, hadats kecil, dan najis)”, tutur Iblis.
“Siapa lagi?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Orang fakir yang senantiasa bersabar, yang tidak pernah menuturkan kefakirannya kepada siapapun dan juga tidak pernah mengeluhkan penderitaan yang dialaminya”, jawab Iblis.
“Lalu dimana engkau tahu kalau ia bersabar?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Wahai Muhammad, bila ia masih dan pernah mengeluhkan penderitaannya kepada makhluk yang sama dengannya selama tiga hari, maka Allah SWT tidak akan mencatat perbuatannya dalam kelompok orang-orang yang bersabar”, jelas Iblis.
“Lalu siapa lagi?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Orang yang bersedekah dengan karna Allah”, tutur Iblis
“Mengapa demikian wahai Abu Murrah (julukan Iblis)?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Sebab dalam sedekah ada empat perkara yang perlu diperhatikan. Dengan sedekah itu Allah SWT akan menurunkan keberkahan dalam hartanya, menjadi ia disenangi di kalangan makhluk-Nya. Dengan sedekah itu pula Allah SWT akan menjadikan suat penghalang antara neraka dengannya dan akan menghindarkan segala bencana dan penyakit”, tutur Iblis dengan jelas.
“Lalu bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Ia sewaktu jahiliyyah saja tidak pernah taat kepadaku, apalagi sewaktu dalam Islam”, tutur Iblis.
“Lalu bagaimana pendapatmu tentang Umar bin Khattab?”, taya Rasulullah SAW.
“Demi Allah SWT, setiap kali saya bertemu dengannya, mesti akan lari darinya”, jawab Iblis.
“Lalu bagaimana pendapatmu tentang Utsman bin Affan?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Saya merasa malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya”, jawab Iblis.
“Lalu bagaimana pendapatmu tentang Ali bin Abi Thalib?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Andaikan saya bisa selamat darinya dan tidak pernah bertemu dengannya ia meninggalkanmu dan saya pun meninggalkannya. Akan tetapi ia tidak pernah melakukan hal itu sama sekali”, tutur Iblis.

“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan umatku bahagia dan mencelakakanmu sampai pada waktu yang ditentukan”, tutur Rasulullah SAW.
“Tidak dan tidak mungkin, di mana umatmu bisa bahagia sementaar saya hidup dan tidak mati pada waktu yang telah ditentukan. Lalu bagaimana engkau bisa bahagia terhadap umatmu, sementara saya bisa masuk kepada mereka melalui aliran darah dan daging, sedangkan mereka tidak melihatku. Demi Tuhan yang telah menciptakanku dan telah menunda kematianku sampai pada hari mereka dibangkitkan kembali (kiamat), sungguh saya akan menyesatkan mereka seluruhnya, baik yang bodoh maupun yang alim, yang awam maupuun yang bisa membaca Al Qur’an, yang nakal maupun yang rajin beribadah, kecuali hamba-hamba Allah yang mukhlis murni”, tutur Iblis.
“Siapa menurut engkau hamba-hamba Alah SWT yang mukhlis murni?”, Tanya Rasulullah SAW.
Iblis menjawab dengan panjang lebar, “Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa orang yang masih suka dinar dan dirham (harta) adalh belum bisa murni. Apabila saya melihat seseorang yang sudah tidak menyukai dinar dan dirham, serta tidak suka dipuji, maka saya tahu bahwa ia adalah orang yang mukhlis ,lalu saya tinggalkan. Sesungguhnya seorang hamba yang masih suka harta dan pujian, sedangkan hatinya tergantung pada kesenangan-kesenangan duniawi, maka ia akan lebih taat kepadaku dari pada orang-orang yang telah saya jelaskan kepadamu.

Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta harta itu termasuk dosa paling besar?, apakah engkau tidak tahu bahwa saya memiliki tujuh puluh ribu anak, sedangkan setiap anak dari jumlah tersebut memiliki tujuh puluh ribu setan. Diantara mereka sudah saya tugaskan untuk menggoda ulama’, ada yang saya tugaskan untuk menggoda pemuda, ada yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang sudah tua. Anak-anak muda bagi kami tidak masalah, sedangkan anak kecil lebih mudah kami permainkan sekehendak saya. Di antara mereka juga ada yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang tekun beribadah, dan ada juga yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang zuhud. Mereka keluar masuk dari kondisi ke kondisi lain, dari satu pintu ke pintu lain, sehingga mereka berhasil dengan cara apapun. Saya ambil dari mereka nilai keikhlaskan dalam hatinya, sehingga mereka beribadah dengan tidak ikhlas, sementara mereka tidak merasakan hal itu.

Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa Bashrish seorang rahib (pendeta) yang berbuat ikhlas karena Allah selama tujuh puluh tahun, sehingga dengan doanya ia sanggup menyelamatkan orang-orang yang sakit. Akan tetapi saya tidak berhenti menggodanya sehingga ia sempat berbuat zina dengan seorang perempuan, membunuh orang dan mati dalam keadaan kafir?

Inilah yang disebutkan oleh Allah SWT dalam kitabNya dengan firmanNya : “(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperi (bujukan) setan ketika setan berkata kepada manusia “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata “Sesungguhnya aku telah cuci tangan darimu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam”. (QS Al Hasyr : 16)

Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa kebohongan itu dari saya. Saya adalah orang yang berbohong pertama kali. Orang yang berbohong adalah temanku. Barang siapa bersumpah atas nama Allah dengan berbohong maka ia adalah kekasihku. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa saya pernah bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan aas nama Allah, “Bahwa saya akan memberi nasehat kepada kalian berdua”. Maka sumpah bohong itu menyenangkan hatiku. Sedangkan menggunjing dan mengadu domba adalah buah santapan dan kesukaanku. Kesaksian dusta adalah penyejuk mataku dan kesenanganku. Barang siapa yang bersumpah dengan menceraikan istrinya (talak) maka hamper tidak bisa selamat, sekalipun hanya sekali. Andaikan itu benar, yang karenanya orang membiasakan lidahnya mengucapkan kata-kata tersebut, istriya akan menjadi haram.

Kemudian dari pasangan tersebut menghasilkan keturunan sampai hari  kiamat nanti yang semuanya hasil dari anak—anak zina. Sehingga seluruhnya masuk neraka hanya gara-gara satu ucapan. Wahai Muhammad, sesungguhnya di antara umatmu ada orang yang menunda-nunda shalatnya dari waktu ke waktu. Ketika ia hendak melakukan shalat maka saya selalu berada padanya dan mengganggu sembari berkata padanya, “masih ada waktu, teruskan engkau sibuk dengan rusan dan pekerjaan yang engkau lakukan”, sehingga ia menunda shalatnya, dan kemudian shalat di luar waktunya. Akibatnya dengan shalat yang dikerjakan di luar waktunya itu akan dipukul kepalanya. Kalau saya merasa kalah, maka saya mengirim kepadanya salah seorang setan-setan manusia yang akan menyibukkan waktunya. Kalau dengan usaha itu saya masih kalah,  maka saya tinggalkan sampai ia menjalankan shalat. Ketika dalam shalatnya saya berkata kepadanya, “lihatlah ke kanan dan ke kiri”, akhirnya dia melihat. Maka pada saat itu wajahnya saya usap dengan tangan saya kemudian saya menghadap didepan matanya sembari berkata, ‘engkau telah melakukan apa yang tidak akan menjadi baik selamanya’. Wahai Muhammad, engkau tahu bahwa orang banyak menoleh dalam shalatnya, Allah akan memukul kepalanya dengan shalat tersebut, kalau dalam shalat ia sanggup mengalahkan saya, sementara ia shalat sendirian maka saya perintahkan untuk tergesa-gesa. Maka ia mengerjakan shalat seperti ayam yang mencocok benih-benih untuk dimakan dan segera meninggalkannya. Kalau ia sanggup mengalahkan saya, dan shalat berjama’ah, maka saya kalungkan rantai di lehernya. Ketika ia sedang ruku’ saya tarik kepalanya ke atas sebelum imam bangun dari ruku’ dan saya turunkan sebelum imam turun. Wahai Muhammad, engkau tahu bahwa orang yang melakukan shalat seperti itu, maka batal shalatnya, dan di hari kiamat nanti Allah akan menyalin kepalanya dengan kepala keledai. Kalau dengan cara tersebut saya masih kalah, maka saya perntahkan meremas-remas jari jemarinya sehingga bersuara, sedangkan ia sedang shalat. Kalau dengan cara tersebut masih juga tidak mempan, maka saya tiup hidungnya sehingga ia menguap, sementara ia sedang shalat, kalau ia tidak menutupi mulutnya dengan tangannya maka setan masuk ke dalam perutnya, sehingga ia semakin rakus dengan dunia dan berbagai perangkapnya. Ia akan selalu mendengar dan taat kepadaku. Bagaimana umatmu bisa bahagia wahai Muhammad, sementara saya memerintah orang-orang miskin untuk meninggalkan shalat, dan saya berkata kepadanya, “Shalat bukanlah kewajiban kalian, shalat hanya kewajiban orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah”, saya pun berkata kepada orang sakit, “Tinggalkan shalat, karena shalat bukanlah kewajibanmu. Shalat hanyalah kewajiban orang-orang yang diberi nikmat kesehatan. Sebab Allah sudah berfirman, “…dan tidak apa-apa bagi seorang yang sedang sakit…” (QS An Nur : 61). Kalau engkau sudah sembuh baru melakukan shalat. Akhirnya ia mati dalam kondisi kafir. Apabila ia mati dengan meninggalkan shalat ketika sedang sakit, maka ia akan bertemu dengan Allah dengan dimurkai. Wahai Muhammad, jika saya menyimpang dan berdusta kepadamu, maka hendaknya engkau memohon kepada Allah agar saya dijadikan debu yang lembut. Wahai Muhammad, apakah engkau masih juga merasa gembira terhadap umatmu, sementara saya bisa memurtadkan seperenam dari umatmu untuk keluar dari Islam?”
Kemudian Rasulullah SAW meneruskan pertanyaannya, “Wahai makhluk terkutuk, siapa teman dudukmu?”

“Orang-orang yang suka memakan riba”, jawab Iblis.
“Lalu siapa teman dekatmu?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Orang yang berzina”, jawab Iblis.
“Siapa teman tidurmu?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Orang yang mabuk”, jawab Iblis.
“Siapa utusanmu?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Tukang sihir/tukang tenung/dukun”, jawab Iblis.
“Apa menyenangkan pandangan matamu?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Orang yang bersumpah dengan talak”, jawab Iblis.
“Siapa kekasihmu?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Orang yang meninggalkan shalat jum’at”, jawab Iblis.
“Wahai makhluk terkutuk, apa yang membuat punggungmu patah?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Suara ringkik kuda untuk berperang membela agama Allah SWT”, jawab Iblis.
“Apa yang membuat hatimu panas?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Banyak beristighfar kepada Allah, baik di malam hari maupun di siang hari”, jawab Iblis.
“Apa yang membuatmu merasa malu dan hina?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Sedekah secara rahasia”, jawab Iblis.
“Apa yang menjadikan matamu buta?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Shalat di waktu sahur”, jawab Iblis.
“Apa yang dapat mengembalikan kepalamu?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Memperbanyak shalat berjama’ah”, tutur Iblis.
“Siapa orang yang paling membahagiakanmu?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Orang yang sengaja meninggalkan shalat”, jawab Iblis.
“Siapa orang yang paling celaka menurut engkau?”, Tanya Rasulullah SAW.
“orang-orang yang kikir”, jawab Iblis.
“Bagaimana cara engkau makan?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Dengan tangan kiriku dan jari jemariku”, jawab Iblis.
“Di mana engkau cari tempat berteduh untuk anak-anakmu di waktu panas?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Di bawah kuku manusia”, jawab Iblis.
“Berapa kebuTuhan yang pernah engkau minta kepada Tuhanmu?”, Tanya Rasulullah SAW.
“Sepuluh macam”, jawab Iblis.
“Apa saja itu wahai makhluk terkutuk?”, Tanya rasululullah SAW.
Iblis pun menjawab : “Saya meminta-Nya agar saya bisa berserikat dengan anak cucu adam dalam harta kekayaan dan anak-anak mereka. Akhirnya Allah mengizinkanku berserikat dalam kelompok mereka. Itulah maksud firman Allah SWT : “Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka”. (QS Al Isra’ : 64). Setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya, maka saya ikut memakannya. Saya juga ikut makan makanan yang bercampur riba’ dan haram serta segala harta yang tidak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Alah dari setan ketika bersetubuh dengan istrinya, maka setan akan ikut bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang mendengar dan taat kepadaku. Begitu juga orang yang naik kendaraan dengan maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya. Itulah maksud firman Allah SWT : “Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki”. (QS Al Isra’ : 64). Saya memohon kepada-Nya agar saya punya rumah, maka rumahku adalah kamar mandi. Saya memohon agar saya punya masjid, akhirnya pasar menjadi masjidku. Saya memohon agar saya punya Al Qur’an, maka syair adalah Al Qur’anku.

Saya memohon agar saya punya adzan, maka terompet adalah panggilan adzanku. Saya memohon kepada-Nya agar saya punya tempat tidur, maka orang-orang mabuk adalah tempat tidurku. Saya memohon agar saya memiliki teman-teman yang menolongku, maka kelompok Al-Qadariyyah menjadi teman-teman yang membantuku. Dan saya memohon agar saya memiliki teman-teman dekat, maka orang-orang yang menginfakkan harta kekayaannya untk kemaksiatan adalah teman dekatku. Itulah maksud firman Allah SWT : “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (QS Al Isra’ : 27).

Rasulullah SAW berkata kepada Iblis, “Andaikan tidak setiap apa yang engkau ucapkan itu didukung oleh ayat-ayat dari kitab Allah tentu aku tidak akan membenarkanmu”.

Iblis melanjutkan lagi, “Saya memiliki anak yang saya beri nama Atamah. Ia akan kencing di telinga seorang hamba ketika tidur meninggalkan shalat isaya’. Andaikan karenanya manusia tidak akan tidur terlebih dahulu sebelum menjalankan shalat. Saya juga punya seorang anak yang saya beri nama Mutaqahi. Apabila ada seorang hamba melakukan ketaatan (ibadah) dengan rahasia dan ingin menutupinya, maka anak saya tersebut senantiasa membatalkannya dan dipamerkan di tengah-tengah manusia, sehingga semua manusia tahu. Akhirnya Allah membatalkan sembilan puluh Sembilan dari seratus pahala. Sehingga yang tersisa hanya satu pahala. Sebab setiap ketaatan yang dilakukan secara rahasia akan diberi seratus pahala. Saya mempunyai anak lagi yang bernama Kuhyal, dimana ia bertugas mengusapi celak mata semua orang yang sedang berada di majelis pengajian dan ketika khatib sedang berkhutbah. Sehingga mereka terkantuk dan tertidur, tdak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Mereka yang tertidur tidak akan ditulis pahala sedikitpun untuk selamanya.

Iblis melanjutkan lagi, “Setiap kali ada perempuan keluar mesti ada syetan yang duduk dipinggulnya, ada pula yang duduk di daging yang mengelilingi kukunya. Di mana mereka akan menghiasi kepada orang-orang yang melihatnya. Kedua syetan itu kemudian berkata kepadanya “Keluarkan tanganmu”, akhirnya ia mengeluarkan tangannya, kemudian kukunya tampak, lalu kelihatan nodanya”.

Iblis melanjutkan lagi, “Wahai Muhammad, sebenarnya saya tidak bisa menyesatkan sedikitpun. Akan tetapi saya akan mengganggu dan menghiasi. Andaikan saya memiliki hak dan kemampuan untuk menyesatkan, tentu saya tidak membiarkan segelintir manusia pun di muka bumi ini yang masih sempat mengucapkan dua kalimat sayahadat “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya”. Tidak akan nada lagi orang yang shalat dan berpuasa.

Sebagaimana engkau wahai Muhammad, tidak berhak memberikan hidayah sedikitpun kepada siapa saja. Akan tetapi engkau adalah seorang utusan dan penyampai amanat dari Allah. Andaikan engkau memiliki hak dan kemampuan untuk memberi hidyah, tentu engkau tidak akan membiarkan segelintir orang kafir pun di muka bumi ini. Engkau adalah sebagai argumentasi (hujjah) Allah SWT terhadap makhlukNya. Sementara saya menjadi sebab celakanya orang yang sebelumnya dicap oleh Allah sebagai orang yang celaka. Orang yang bahagia dan beruntung adalah orang yang dijadikan bahagia oleh Allah sejak dalam perut ibunya, sedangkan orang yang celaka adalah orang dijadikan celaka oleh Allah sejak dalam perut ibunya”.
Rasulullah kemudian membacakan firman Allah SWT : “Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senatiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu”. (QS Hud : 118-119)
Kemudian beliau Nabi SAW melanjutkan dengan membaca firman Allah SWT : “Dan adalah ketetapan Alalh itu suatu ketetapan yang pasti berlaku”. (QS Al Ahzab : 38).
Lantas Rasulullah SAW bertanya lagi kepada Iblis, “Wahai Abu Murrah (Iblis), apakah engkau masih mungkin bertaubat dan kembali kepada Allah, sementara saya akan menjaminmu masuk syurga?”.
Iblis menjawab, “Wahai Rasulullah, ketentuan telah memutuskan dan Qalam telah kering dengan apa yang terjadi seperti ini hingga hari kiamat nanti. Maka maha suci Allah yang telah menjadikanmu sebagia tuan para Nabi dan khatib para penduduk syurga. Dia telah memilih dan mengutus dirimu. Sementara Dia telah menjadikan saya sebagai tuan orang-orang yang celaka dan khatib para penduduk neraka. Saya adalah makhluk yang celaka lagi terusir. Ini adalah akhir dari apa yang telah saya beritahukan kepadamu, dan saya mengatakan sejujurnya”.



    Kisah Menarik Lainnya 

    - Bilal Al-Habsyi
    - Bersabar

No comments:

Post a Comment

Submit your website